Kabar ·
Dampak Digitalisasi Pariwisata terhadap Ekonomi Lokal
Pembayaran QRIS, media sosial, dan pemesanan daring membuka peluang baru bagi usaha wisata di daerah. Namun ada juga tantangan yang perlu dihadapi bersama.

Dulu, wisatawan mengenal sebuah tempat dari brosur atau cerita teman. Kini, mereka menemukannya lewat media sosial, memesan lewat aplikasi, dan membayar dengan memindai kode QR. Digitalisasi telah mengubah cara pariwisata berjalan, termasuk bagaimana manfaat ekonominya mengalir ke masyarakat lokal.
Lihat juga panduan lengkap destinasi wisata Purwokerto untuk daftar tempat wisata, kuliner, dan itinerary lainnya.
Peluang yang terbuka
Pasar yang lebih luas
Warung makan di desa atau perajin di pelosok kini bisa dikenal wisatawan dari kota lain lewat media sosial, peta digital, dan ulasan daring. Promosi yang dulu mahal kini bisa dilakukan dengan biaya rendah.
Pembayaran yang lebih mudah
Pembayaran digital seperti QRIS memudahkan wisatawan yang semakin jarang membawa uang tunai. Bagi pelaku usaha, transaksi menjadi lebih cepat dan pencatatan keuangan lebih rapi.

Gerobak jajanan dengan kode QRIS di jendelanya. Foto: VulcanSphere, CC BY 4.0.
Sejumlah kajian di desa wisata menunjukkan hasil yang menjanjikan. Studi di Desa Senaru, Lombok Utara, menyimpulkan bahwa penggunaan QRIS meningkatkan efisiensi, transparansi, dan akses pasar bagi UMKM. Program pendampingan di Desa Sesaot, Lombok Barat, melaporkan bertambahnya UMKM pengguna QRIS serta kenaikan omzet setelah kegiatan, meski hasil ini berasal dari satu program dan perlu dikaji lebih luas.
Usaha lokal ikut terangkat
Ketika wisatawan lebih mudah menemukan dan membayar, usaha kecil seperti kuliner, kerajinan, homestay, dan jasa transportasi lokal ikut merasakan manfaatnya. Uang wisatawan pun lebih banyak berputar di daerah.
Tantangan yang perlu dihadapi
- Literasi digital yang belum merata. Tidak semua pelaku usaha terbiasa memakai aplikasi, mengelola media sosial, atau membaca data penjualan.
- Infrastruktur jaringan. Di sebagian kawasan wisata alam, sinyal internet masih terbatas sehingga transaksi digital bisa terhambat.
- Persaingan yang makin terbuka. Usaha lokal kini bersaing langsung dengan pemain besar di platform yang sama.
- Ketergantungan pada platform. Biaya layanan dan perubahan algoritma platform dapat memengaruhi pendapatan pelaku usaha kecil.
Studi di Desa Senaru juga mencatat bahwa sebagian besar UMKM di sana masih mengandalkan uang tunai, dengan hambatan utama berupa rendahnya literasi digital, keterbatasan jaringan, dan kurangnya edukasi pemasaran digital.
Langkah yang bisa diambil
- Bagi pelaku usaha: mulai dari hal sederhana, seperti mendaftarkan usaha di peta digital, menyediakan pembayaran QRIS, dan membalas pesan pelanggan dengan cepat.
- Bagi pengelola desa wisata: adakan pelatihan literasi digital dan pemasaran bersama, serta bangun citra kawasan yang konsisten.
- Bagi wisatawan: dukung usaha lokal dengan berbelanja langsung, memberi ulasan jujur, dan membagikan pengalaman positif.
Penutup
Digitalisasi bukan tujuan, melainkan alat. Dampaknya bagi ekonomi lokal akan maksimal bila teknologi dibarengi kesiapan sumber daya manusia dan kolaborasi antara pelaku usaha, pengelola wisata, dan pemerintah.
Destinasi Wisata Purwokerto juga menyediakan layanan konsultasi pariwisata untuk membantu pengembangan destinasi, produk wisata, serta strategi pemasaran. Hubungi kami lewat WhatsApp untuk berdiskusi.
Referensi
- Jurnal Wicara (Unram): Implementasi QRIS di Desa Senaru
- Jurnal Wicara (Unram): Pendampingan QRIS di Desa Sesaot
- Jurnal Kumawula (Unpad): Digitalisasi pembayaran UMKM pariwisata
Sumber foto
- Foto sampul (desa wisata): Desa Wisata Rantih 16 oleh Happywu, CC BY 4.0, via Wikimedia Commons.
- Gerobak dengan QRIS: Food cart with QRIS on window oleh VulcanSphere, CC BY 4.0, via Wikimedia Commons.



